Google
 
Tampilkan postingan dengan label terusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terusan. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 24, 2007

Gratis - Operasi Katarak

Mohon disebarluaskan !

RS Fakultas Kedokteran UKI Cawang bekerja sama dengan CBM, NGO dari Jerman, mengadakan pelayanan Operasi Katarak untuk orang yang kurang mampu. Bagi yang memerlukan pelayanan tersebut, keterangan lebih lanjut dapat menghubungi : dr. Herny P., SpM dan dr. Elisabeth di no telp. (021) 8092317 ext. 313 dan 80870762 (PoliMata RSU FK UKI).Mohon pesan ini dapat disebarkan ke contact Anda, agar orang-orang yang kurang mampu dapat terbantu.Jika bukan Anda yang memerlukan, Anda tidak keberatan membagi informasi kan?

diposting oleh Jhoni Tuerah di milis FEUI95




Rabu, Juli 18, 2007

Anak-anak TV

(source milis FEUI 95, posted by Ilham D Sannang)

Salam,
Saya baru saja membaca buku terbaru Daniel Goleman, Kecerdasan Sosial (Daniel Goleman adalah penulis buku Emotional Intelligence—ids). Di buku itu disebutkan efek buruk televisi. Televisi cenderung mematikan otak sosial jika dikonsumsi melebih yang seharusnya, terutama untuk anak-anak. Merujuk ke tulisan Cynthia Garza, "Young Students Seen as Increasingly Hostile", Goleman mengabarkan tentang gampangnya anak-anak sekarang meledak emosinya.
Ada data yang memperlihatkan bahwa anak-anak balita, 40 persen dari anak-anak Amerika yang berusia dua tahun, menonton televisi paling sedikit selama tiga jam dalam sehari. Waktu tersebut terlewatkan tanpa interaksi dengan orang yang bisa membantu mereka belajar untuk begraul dengan lebih baik. "Semakin banyak mereka melihat televisi, semakin buruk perilaku mereka pada usia sekolah," tulis The American Academy of Pediatrics.
Lebih jauh, lembaga tersebut merekomendasikan agar anak-anak di bawah usia dua tahun tidak menonton televisi sama sekali dan agar anak-anak yang lebih tua menonton televisi tidak lebih dari dua jam sehari. Ketika teknologi menawarkan lebih banyak variasi komunikasi, sesungguhnya yang terjadi adalah isolasi. Kecanggihan teknologi itu sebenarnya memutuskan banyak sekali hubungan manusiawi.
Rayapan teknologi yang diam-diam dan mau tak mau terjadi ini berlangsung begitu halus dan tak kelihatan sehingga tak seorang pun pernah menghitung biaya sosial dan emosinya.

Hernowo Hasim
(Penulis Buku "Mengikat Makna", dan "Andaikan Buku Sepotong Pizza").
***
buku khusus yang membahas bahaya tv adalah karya neil postman, "amusing ourselves to death" (sdh diterbitkan di ind dg judul "menghibur diri sampai mati"; sekitar tahun 2002/3; penerbitnya lupa). postman salah satu kritikus media terkemuka ==> bisa tengok di
http://www.neilpost man.org/
baiquni

Selasa, Oktober 18, 2005

Gerakan Menebeng


Presiden SBY telah meminta rakyat untuk cari jalan
keluar yang baik
dalam mengatasi krisis BBM. Ada sebagian komponen
masyarakat yang
mungkin ingin melakukan demonstrasi menentang
kenaikan BBM.
Tetapi apakah itu jalan keluar terbaik? Bukankah
kenaikan BBM ini
sudah dihitung bersama oleh pemerintah dengan DPR?
Masalah BBM ini
memang bagaikan buah simalakama, BBM dinaikkan
harga-harga bahan pokok
melambung, apabila tidak dinaikkan cadangan devisa
nasional akan
terkuras.

Kata kunci permasalahan ini adalah "Krisis BBM".
Sesuai hukum
permintaan dan penawaran, sedikit penawaran tapi
permintaan lebih
banyak, makin tinggi harga barangnya. Khususnya di
Indonesia, walaupun
harga minyak dunia sudah melambung menjadi sekitar
60 US Dollar per
barrel, jalan-jalan tetap saja penuh dengan
kendaraan bahkan jalan tol
pun tetap macet. Masyarakat seolah tidak peduli
dengan adanya krisis
BBM. Benarkah demikian?

Jalan keluar yang kami tawarkan adalah setiap
pemilik mobil secara
bijaksana menggunakan kendaraannya dalam
beraktivitas sehari-hari
Sering kita lihat mobil pribadi yang dikendarai oleh
satu orang saja
tanpa penumpang sama sekali setiap jam berangkat
kerja dan jam pulang
kerja. Bukankan itu suatu bentuk pemborosan? Mengapa
tidak bergabung
dengan teman kantor sesama pengendara mobil untuk
berangkat kantor?
Dari dua mobil yang digunakan, menjadi tinggal satu
mobil yang
digunakan. Hemat BBM 50%! Selain itu jalan pun
menjadi makin lega.
Apabila semua orang melakukan hal yang sama, dapat
dibayangkan berapa
subsidi BBM yang bisa dihemat, bisa mencapai puluhan
triliun rupiah!

Akan tetapi apakah semudah itu jalan keluarnya? Bisa
saja seseorang
berargumentasi bahwa ia tidak memiliki teman kantor
yang tinggal di
perumahan yang sama, sehingga ia kesulitan mencari
tebengan atau pun
memberi tebengan. Sedangkan memberi tebengan pada
orang yang tidak
dikenal langsung di pinggir jalan, beresiko untuk
dirampok. Apakah
dengan alasan ini, berarti sudah tidak ada jalan
keluar lagi?

Bisa jadi sebenarnya ada tetangga Anda yang
berkantor di gedung yang
sama dengan Anda, tetapi Anda tidak mengetahuinya.
Oleh karena itu
kami tawarkan solusi bagi pengendara mobil di
Indonesia khususnya di
Jabotabek. Solusi ini berupa aplikasi web untuk
mencari data penebeng
dan pemberi tebengan. Pembaca dapat mendaftarkan
diri sebagai pemberi
tebengan/tumpangan di
http://pemberi tebengan atau
sebagai penebeng/penumpang di
http://penebeng
kemudian melakukan pencarian data pemberi tebengan
Cari pemberi tebengan dan
pencarian data penebeng
di Cari penebeng. Semua
fasilitas ini
disediakan secara gratis

Masyarakat bisa mencari jalan keluar dari krisis BBM
bila bersedia
mengorbankan sedikit kenyamanannya dalam berkendara.
Silakan beli
mobil, tapi gunakanlah secara bijaksana. Mari hemat
BBM, ayo Nebeng!


-moers-


seperti dikutip dari milis ee-itb-97-gelo@yahoogroups.com dan ditulis oleh Irwanto Mursetiono

Wanna have e-gold account?